Text
Ziarah : Sebuah Novel
pagi itu dia bangun dengan rasa hari itu dia bakal bertemu istrinya di salah satu tikungan, entah Likungan mana. Sedang istrinya telah mati entah berapa lama. Rasa seperti ini jadi alasan Liap hari bag-inya untuk hidup. Paginya dia selalu gembira, sampai saatnya dia bertemu salah satu Likungan, melaluinya tanpa bertemu istrinya. Kekosongan sesudah tikungan ini membuat petang-pctangnya tiba terlalu cepat. Begitu malam jatuh, perutnya clituangnya arak penuh-penuh, memanggil Tuhan keras-keras, kemudian meneriakkan nama istrinya keras-keras, menangis keras-keras, untuk pada akhirnya tertawa keras?keras. Tawa keras-keras ini menjadi isyarat bagi orang-orang di sekitarnya unruk menuntunnya pulang, ke satu kamar kecil, cli satu rumah kecil, di pinggir kota kecil. Di atas balai?balai kecil satu satunya perabot dalam kamarnya im ? dia meletakkan tubuhnya yang kecil, menghidupi detik-detik selanjutnya dari malam yang sisa. Malam-malamnya seperri ini terlalu kecil unruk dapat menampung pengungsiannya dari harapan yang terlalu besar digantung- kannya pada Likungan jalan, entah rikungan mana. Tapi, fajar yangmengambang cli ufuk Liap pagi membawa ingatan putih baginya, bahwa Likungan jalan bukanlah tempat unmk menemui orang mati, bahxva istrinya sesungguhnya ada di bawah tanah pckuburan yang entah sudah berapa lama tak pernah dikunjunginya, Sudah berapa lama dia tak ziarah? Belum pernah.
Tidak tersedia versi lain